Bill Gates Visit Indonesia Year 2008 ?
Kunjungan Bill Gates, tokoh nomor satu perusahaan pemilik teknologi software terbesar dunia Microsoft, ke Indonesia masih belum pasti.
Kehadirannya masih akan tergantung pada kepastian pelaksanaan acara Government Leadership Forum tahun ini.
Public Relations Manager PT Microsoft Indonesia Mona Monika mengatakan pihaknya menghendaki GLF yang biasa menghadirkan Gates sebagai pembicara bisa digelar di Jakarta, Indonesia tahun ini.
"Tahun lalu acara ini digelar di Beijing China dan sebelumnya di India, kami berharap tahun ini bisa di Jakarta. Ini masih proses dan masih terlalu awal," katanya kepada Bisnis hari ini.
Sejumlah instansi pemerintah dari departemen maupun kementerian memberi dukungan agar penggelaran acara yang akan digelar Mei 2008 itu dapat terlaksana di Jakarta.
Acara itu juga dinilai sejalan dengan kampanye Visit
Indonesia Year 2008.
Jika acara itu berhasil terlaksana di Jakarta, maka kunjungan Gates juga menjadi kunjungan balasan menyusul kunjungan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke kantor pusat Microsoft di Redmont Washington AS pada 2005.
Seorang praktisi TI menilai jika kunjungan itu terlaksana maka Gates yang mensosialisasikan pentingnya TI bagi perekonomian suatu negara akan memberi dampak positif bagi Indonesia.
"Kunjungannya akan menunjukkan perhatiannya terhadap keamanan investasi di Indonesia dan bahkan membangkitkan semangat untuk mempercepat pembangunan sumber daya manusia," ujar eksekutif yang mendengar kabar kehadiran Gates itu.
Di bidang SDM, Microsoft telah menggelar program software khusus pendidikan US$3 di Beijing, China pada April 2007 sebagai bentuk kontribusi Microsoft dalam memberikan kesempatan pengembangan masyarakat di negara berkembang.
Strategi serupa diperkirakan juga ditawarkan kepada Pemerintah Indonesia namun pemerintah saat ini belum menjajaki program pembelian software murah itu.
Sementara itu, di sektor bisnis, Microsoft meningkatkan dukungannya memfasilitasi inovasi bisnis.
Ketua Asosiasi Peranti Lunak Indonesia Djarot Subiantoro sebelumnya mengatakan di luar India, ada negara lain di Asia yang juga kaya potensi.
"China juga lebih dominan. Jika Indonesia tidak cepat [menangkap peluang] akan tertinggal."
Dia mengatakan pada 2010 jumlah pengembang software Indonesia diproyeksikan akan mencapai 10 kali lipat, sehingga akan dapat menyerap tenaga kerja lebih
dari 300.000 sumber daya manusia lokal. Sementara itu, China mempunyai potensi pertumbuhan ahli software yang tinggi yaitu 600.000 orang per tahun.
Pengembang software di RI disarankan tidak jalan sendiri dan mulai berpikir global dengan menunjukan kemampuan, menyesuaikan standar, memperbanyak sertifikasi dan lainnya.

